Rabu, 09 Mei 2018

Menghormati Pemimpin

Semenjak Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa komoditas termahal di dunia adalah racun kalajengking, pendukung dari kubu lawannya beramai-ramai memojokkan dan menghinanya di kolom komentar instagram beliau. Padahal pokok yang ingin disampaikan presiden melalui pidato tersebut ada pada kalimat-kalimat selanjutnya, yaitu ajakan dari presiden agar rakyatnya berpacu dengan waktu. Namun banyak sekali yang fokusnya hanya tertuju pada topik soal kalajengking.

Sebagian mengatakan bahwa itu adalah gurauan yang tidak lucu, sementara sebagian lainnya menanyakan bagaimana spesifikasi dan berapa banyak kalajengking yang dibutuhkan, serta tempat menjual racun kalajengking tersebut. Sekilas memang seperti komentar yang positif jika dilihat dari antusiasme warganet. Sayangnya, komentar-komentar tersebut menggunakan kalimat sarkasme dan dibubuhi olok-olok.

Sebagai warganegara yang budiman, tak sepantasnya kita mengejek seperti itu. Apalagi kepada kepala negara. Memang, apa yang dikatakannya terkesan tidak masuk akal. Namun beliau berbicara sesuai data yang dapat kita gali dan selami secara lengkap baik dari buku maupun internet. Ada beberapa jenis racun yang dihasilkan oleh kalajengking jenis tertentu yang memang mahal sekali harganya karena bermanfaat bagi kesehatan.

            Selain itu, presiden adalah figur yang harus dihormati karena mendapat mandat melalui hasil pemilihan rakyat. Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi, kita seharusnya paham betul bahwa kritik dan aspirasi dapat disampaikan dengna cara yang lebih baik, yakni lebih terpelajar dan sesuai dengan kaidah kesopanan.

Dan kita harus membuktikan kedudukan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Dalam hal ini, presiden merupakan pahlawan karena memperjuangkan kemajuan dan kesejahteraan bangsanya. Dan mengolok-olok presiden bukanlah hal yang etis. Karena bagaimana pun juga, beliau adalah pemimpin kita.

Selasa, 01 Mei 2018

Field Report PKMF 1

Assalamu alaikum! Saya akan menuliskan field report dari kegiatan yang telah saya ikuti untuk memenuhi penugasan PKMF.

Pada tanggal 25 April 2018 telah dilaksanakan acara PKM FMIPA (1) yang bertempat di Gedung Dewi Sartika R.1016 pukul 15.30-17.30 dan dihadiri oleh lebih dari lima puluh orang peserta yang mengenakan almamater UNJ dengan bawahan hitam, serta kerudung putih bagi peserta putri.

Berikut adalah laporan pelaksanaan dari acara tersebut.

15.30: Registrasi peserta
15.45: Pembukaan oleh Kak Mahbub (MC)
15.50: Pembacaan tilawah oleh peserta putra
15.55: Pembacaan CV pemateri oleh Kak Ari (Moderator)
16.00: Pemaparan materi

Materi yang berjudul Pendidikan Kontemporer disampaikan oleh Kak Rakha Ramadhana dari Departemen Kominfo BEM UNJ.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan. Urgensi pendidikan antara lain:
1. Memberi pengetahuan
2. Membangun karakter
3. Meningkatkan karir
4. Mencerahkan masa depan
5. Mencerdaskan kehidupan bangsa

Namun apa yang kita alami di negara ini adalah kian terpuruknya pendidikan. Menurut laporan PISA 2015 -- program yang mengurutkan kualitas sistem pendidikan di 72 negara -- Indonesia menduduki peringkat ke-62. Penyebab terjadinya hal ini di antaranya:
1. Wilayah yang luas
Pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) masih sulit untuk disosialisasikan.

2. Sarana dan prasarana yang tidak memadai
Di wilayah 3T tersebut, banyak siswa-siswi yang menempuh perjalanan jauh dan berbahaya untuk sampai di sekolahnya. Bahkan ruang kelas di sana sangat jauh dari kata layak, karena hanya berdinding rotan dengan tanah sebagai pijakannya.

3. Pemahaman yang kurang
Masih banyak masyarakat di Indonesia yang tidak memahami bahwa pendidikan merupakan suatu kebutuhan mendasar bagi setiap individu.

4. Subsidi yang tidak merata
Dana untuk pembangunan sekolah nyatanya belum disalurkan secara maksimal.

5. Rasa malas
Bagi setiap murid terutama yang hidup di kota besar, justru malas untuk belajar.

Di era serba digital ini, perlu ditanamkan prinsip 'BACA! BACA! BACA!' karena itu merupakan solusi untuk keluar dari keterpurukan ini.  Minat baca memang harus ditingkatkan pada setiap orang, terutama generasi mudanya. Bahkan untuk menunjang Internet of Things, Kemenristekdikti tengah mematangkan sistem Cyber University agar dapat segera diterapkan.

Sebelum menutup materinya, kak Rakha memutar video mengenai betapa salahnya kurikulum yang masih memaksa muridnya untuk ahli dalam segala bidang. Hal ini dianalogikan seperti ikan yang diajarkan untuk memanjat pohon.

Materi pun selesai dan dilanjutkan dengan agenda berikut.

17.05 Penyerahan laporan danus pengembalian uang modal
17.10 Pemberian penugasan dan barang bawaan
17.30 Penutupan oleh MC

Sekian field report PKMF 1, semoga rangkuman materi tersebut dapat menambah wawasan pembaca sekalian (jika ada yang membaca).

Terima kasih, wassalamualaikum.