Semenjak Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa komoditas termahal di dunia adalah racun kalajengking, pendukung dari kubu lawannya beramai-ramai memojokkan dan menghinanya di kolom komentar instagram beliau. Padahal pokok yang ingin disampaikan presiden melalui pidato tersebut ada pada kalimat-kalimat selanjutnya, yaitu ajakan dari presiden agar rakyatnya berpacu dengan waktu. Namun banyak sekali yang fokusnya hanya tertuju pada topik soal kalajengking.
Sebagian mengatakan bahwa itu adalah gurauan yang tidak lucu, sementara sebagian lainnya menanyakan bagaimana spesifikasi dan berapa banyak kalajengking yang dibutuhkan, serta tempat menjual racun kalajengking tersebut. Sekilas memang seperti komentar yang positif jika dilihat dari antusiasme warganet. Sayangnya, komentar-komentar tersebut menggunakan kalimat sarkasme dan dibubuhi olok-olok.
Sebagai warganegara yang budiman, tak sepantasnya kita mengejek seperti itu. Apalagi kepada kepala negara. Memang, apa yang dikatakannya terkesan tidak masuk akal. Namun beliau berbicara sesuai data yang dapat kita gali dan selami secara lengkap baik dari buku maupun internet. Ada beberapa jenis racun yang dihasilkan oleh kalajengking jenis tertentu yang memang mahal sekali harganya karena bermanfaat bagi kesehatan.
Selain itu, presiden adalah figur yang harus dihormati karena mendapat mandat melalui hasil pemilihan rakyat. Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi, kita seharusnya paham betul bahwa kritik dan aspirasi dapat disampaikan dengna cara yang lebih baik, yakni lebih terpelajar dan sesuai dengan kaidah kesopanan.
Dan kita harus membuktikan kedudukan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Dalam hal ini, presiden merupakan pahlawan karena memperjuangkan kemajuan dan kesejahteraan bangsanya. Dan mengolok-olok presiden bukanlah hal yang etis. Karena bagaimana pun juga, beliau adalah pemimpin kita.